TEKNIK PENYAMBUNGAN LADA MERICA
Lada (pipper l ningrum) umumya di kebangkan oleh petani dengan membudidayakannya dengan cara vegetative dari sulur panjat,cacing dan gantung pada indukan merica/lada tersebut sehingga penanamannya harus mengunakn media rambat. Penggunaaan edia rambat/tiang tentunya akan memerlukan biaya yang sangat banyak untuk membelinya atau penebangannya. Ada banyak pilihan dalam media rambatnya,
1. Kayu hidup/tajar
2. Kayu mati.
3. Betong
Yang tentunya juga media rambat atau tiangnya harus kuat,tahan hujan dan panas serta tahan lama.
Lada/merica juga biasanya bias dibudidayakan tanpa menggunakan tiang rambat,ini di anggap adalah jalan keluar pencegahan biaya untuk beli tiang rambat yang di anggap petani sangat mahal.
Lada perdu adalah inovasi tanaman lada tanpa tiang panjat. Pembibitan lada perdu biasanya menggunakan stek yang berasal dari sulur buah pada tanaman merica lalu di semai agar tunasnya keluar. Lada perdu berbeda dengan lada rambat,dimana lada perdu hanya tumbuh melebr di atas permukaan tanah dan tidak memiliki akar lekat,lada perdu biasanya akan lebih cepat berbuah daripada lada rambat mengingat steknya pun berasal dari sulur buah,logisnya seperti itu.
Lada sambung, salah satu inovasi termodern petani diaman 2tanaman yang berbeda bias hidup dalam satu pohon.
Penyambunagan,tehnik penyambungan yang biasa digunakan dalam perbanyakan lada adalah sambungcelah dan sambung miring.
Batang bawah berasal dari perbanyakan biji dan bagian atas berasla dari stek yang berumur 2tahun.
Teknik penyambungan menggunakan tanaman merica: Stek lada sirih menggunakn stek 1ruas.
Liat videonya ---->>>https://www.youtube.com/watch?v=p874WvSEbiY
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data yang dikumpulkan dari perlakuan sambung setek lada-sirih menggunakan setek lada satu ruas dengan nomor ruas berbeda dapat dilihat pada tabel 1. Data hasil pengamatan pada minggu ke 10 selanjutnya dianalisis keragaman untuk melihat pengaruh perlakuan nomor dan jumlah ruas yang diujikan terhadap persentase hidup sambungan, hidup sirih, sambungan yang tumbuh tunas, jumlah tunas dan panjang tunas. 1. Waktu tumbuh tunas lada Waktu awal tumbuh tunas tercatat dimulai pada hari ke 13 setelah penyambungan dan paling lama sampai hari ke 60, setelah itu sampai hari ke 70 jika tidak mati akan tetap dorman. Rata rata waktu tumbuh tunas tercepat diperoleh pada perlakuan ruas ke empat, yang berbeda nyata dengan perlakuan ruas ke satu. (Gambar 1) 2. Persen tumbuh sambunga lada sirih Sambungan yang tetap hijau pada minggu ke 10 ditandai sebagai persentase sambungan yang hidup selanjutnya dari yang tetap hijau ada yang dorman dan menumbuhkan tunas. Penghitungan persentase tumbuh sambungan dilakukan terhadap tunas yang telah terlihat keberadaan tunasnya. Data total tumbuh tunas sampai minggu ke 10 terlihat pada Gambar 2. Untuk melihat lebih rinci banyaknya tunas yang tumbuh pada tiap perlakuan dilakukan pengamatan persentase tumbuh setiap dua minggu mulai minggu ke empat sampai minggu kesepuluh setelah penyambungan. Hasil lengkap persentase tumbuh tunas berdasarkan waktu dapat dilihat pada Gambar 3. Perlakuan nomor ruas yang berbeda pada sambung setek lada sirih menunjukkan pengaruh nyata pada minggu ke empat, selanjutnya pada minggu ke enam, delapan dan kesepuluh tidak terlihat adanya pengaruh nyata perlakuan nomor ruas lada yang digunakanterhadap persentase tumbuh tunas lada.
Penelitian dilaksanakan di kebun Percobaan Agrteknologi Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung. Waktu Pelaksanaan direncakan dimulai Bulan April sampai Agustus 2013. Tahap penelitian dilakukan sebagai berikut: 1. Persiapan media tanam Media tumbuh yang dipakai adalah campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Bahan-bahan tersebut dimasukkan kedalam poybag berukuran lebar 15 cm dan tinggi 20-25 (Mansur dan Sarwanda, 2008) 2. Persiapan bakal batang bawah / setek sirih Setek sirih diambil dari kebun, kemudian dilakukan pemotongan menjadi ukuran setek 1 ruas 3. Persiapan bakal batang atas/ setek lada Setek sirih diambil dari kebun petani dengan panjang awal setek 7 ruas, kemudian dilakukan pemotongan menjadi ukuran setek 1 dan 2 ruas. 4. Penyambungan setek Selanjutnya dilakukan penyambungan setek sesuai dengan perlakuan (table 1) dengan menggunakan plastic pengikat untuk penyambungan. 5. Penanaman Setelah dilakukan penyambungan setek lada yang telah tersambung dengan setek sirih sesuai dengan masing-masing perlakuan ditanam dengan setek sirih sebagai batang bawah. 6. Persiapan sungkup tempat tumbuh Didalam rumah atap dibangun kerangka sungkup dari bambU yang dibuat melengkung membentuk setengah lingkaran, ukuran lebar 1 m dan tinggi 60 cm dan panjang disesuaian 7. Pemeliharan Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman, pemberantasa gulma dan hama penyakit, dilakukan secara manual.
Potensi hidup bibit setek lada yang disambungkan dengan sirih pada seterk lada 1 ruas dapat mencapai 75 persen, ditemui pada ruas lada ke empat demikian pula dengan waktu tercepat tumbuhnya tunas lada juga ditemui pada ruas ke empat (25,71 hari). Perlakuan nomor ruas lada satu ruas yang digunakan pada sambung setek lada sirih berpengaruh nyata pada Persentase tumbuh tunas lada dan panjang tunas yang tumbuh hanya pada minggu ke empat setelah penyambungan. Panjang tunas tertinggi ditemui pada nomor ruas ke dua setek lada satu ruas yang di sambungkan dengan sirih.
